Kamis, 13 Oktober 2022, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro menerima kunjungan dari MA Unggulan Darul Ulum Jombang yang terdiri dari 97 siswa dan 14 wali. Kunjungan ini dilakukan di ruang teatrikal, Gedung B, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Tujuan dari kegiatan ini untuk mempersiapkan mental dan motivasi siswa agar lebih matang dalam menghadapi musim penerimaan mahasiswa baru di tahun 2023.

Dalam kegiatan ini penjabaran umum terkait Fakultas Kedokteran UNDIP disampaikan oleh Dr. Khairul Anam, S.Si., M.Si. “Dalam FK UNDIP strategi pembelajaran yang dianut yaitu pendekatan SPICES. Student Center Learning mahasiswa tidak hanya mendengarkan tapi juga berdiskusi, jadi pembelajarannya akan menarik. Kemudian ada Integrated Teaching, memandang berbagai kajian, aspek dietnya, aspek keperawatannya, semuanya dikaji secara komprehensif. Selanjutnya Community Oriented, Early Clinical Exposure, dan Self Directed Learning ” Ungkap Dr. Anam.

Beliau juga menjelaskan dalam alumni khususnya Fakultas Kedokteran, mempunyai suatu wadah, banyak berkontribusi besar dalam pembelajaran di FK. Ketika alumni mendapat pengalaman di luar disalurkan ke adik-adiknya di UNDIP. jadi perkembangan UNDIP tidak lepas dari alumninya.

Masuk ke sesi tanya jawab, penanya pertama bernama Farah, dia bertanya mengenai apakah ada jalur mudah lain selain jalur prestasi (SBUB). Dijawab oleh bapak Santoso selaku perwakilan dari Prodi Kedokteran, “untuk masuk prodi kedokteran itu ada banyak jalur ada snm penilaiannya dari rapot adik—adik sejak sekolah, jalur melalui tes SBMPTN (secara) nasional, kemudian ada jalur UM dan itu ada 2, UM 1 dan UM 2. Kemudian ada jalur prestasi khusus SBUB tetapi adik-adik akan dituntut harus berprestasi di kuliahnya.” Jelas bapak Santoso

Ditambahi oleh Dr. Anam, cara paling mudah masuk FK adalah dengan banyak mengaji dan menghafal agar menjadi hafidz, kalau sudah sampai 15 juz daftar ke FK UNDIP itulah paling mudah, nanti akan diseleksi. Kemudian jalur prestasi di olahraga boleh. Banyak pintu untuk bisa masuk ke FK UNDIP tinggal disesuaikan masuk ke pintu yang mana.

Dilontarkan sebuah pertanyaan mengenai masalah kesehatan seperti minus atau masalah gigi sebagai syarat masuk. Dijawab oleh bapak Santoso, “kita tidak pakai (persyaratan) itu, itu dipakai untuk tenaga kesehatan yang lain, untuk vokasi yang menggunakan itu. Kalau kita boleh aja” jawab bapak Santoso. Tambahan dari bapak Yogi, kalau masuk kedokteran persyaratannya tidak seketat masuk institusi yang lain, yang penting tidak buta warna karena itu syarat untuk masuk kedokteran, termasuk kedokteran gigi, karena ada hal-hal utama yang berkaitan dengan warna contoh obat, saraf. Kalau gigi berlubang itu tidak apa.

“memang pendidikan kedokteran di Indonesia kita dispesialkan dengan aturan tertentu itu amanat dari pemerintah. Memang harus dari jurusan IPA, kalau dari IPS saat ini belum ada peluang masuk ke situ (kedokteran)” jawab bapak Santoso.

Pertanyaan tentang UKT apakah ada perbedaan antara UM, SBM, SNM. Dijawab oleh bapak Anam, di UNDIP kita menganut sistem subsidi silang ada UKT (golongan) 1-8, khusus untuk UM harus UKT golongan 8 dan itu hanya untuk 1 SMT, setelahnya dapat minta keringanan, tinggal diajukan, nanti ada peninjauan dari fakultas apakah layak untuk disesuaikan lagi. Disitulah ada bantu membantu teman yang tidak mampu UKT (golongan) 8. Lalu juga ada bantuan dari pemerintah, nanti biaya bisa menyesuaikan.

Kalau dari SBM, dan jalur selain UM, mulai dari SMT 1 sudah ada peninjauan berdasarkan kekuatan (ekonomi) keluarga.

Pertanyaan terakhir dari seorang siswa bernama Arifa, apakah kelas tahfidz yang tidak memiliki basik IPA sama sekali. Dijelaskan oleh bapak Santoso sejauh ini kami belum menerima mahasiswa yang dari selain urusan IPA, mudah—mudahan ada peraturan yang digodok.