KALIMANTAN BARAT – dr. Juhendro, Sp.PD, FINASIM, alumnus Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), menegaskan bahwa pendidikan yang ia tempuh tidak hanya memperkuat kompetensi klinis, tetapi juga membentuk karakter, empati, dan komitmen pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, proses pendidikan di FK Universitas Diponegoro memberikan fondasi berpikir ilmiah yang kuat serta membiasakan mahasiswa mengambil keputusan klinis secara komprehensif dengan tetap mengutamakan keselamatan pasien.
“Pendidikan selama menempuh PPDS Ilmu Penyakit Dalam di FK Undip memberikan fondasi yang sangat kuat, tidak hanya dalam aspek keilmuan klinis, tetapi juga dalam pembentukan karakter sebagai seorang dokter spesialis,” ujarnya.
Selama masa pendidikan, ia menghadapi beragam kasus medis yang menuntut ketenangan, ketelitian, serta kemampuan bekerja dalam tim multidisiplin. Pengalaman tersebut membentuk profesionalisme sekaligus mengajarkannya bahwa setiap pasien harus dipandang sebagai individu dengan latar belakang yang berbeda, sehingga komunikasi dan penghormatan terhadap martabat pasien menjadi bagian penting dalam pelayanan medis.
Setelah menyelesaikan pendidikan, dr. Juhendro mengabdikan diri di Ketapang, Kalimantan Barat, wilayah dengan tantangan geografis dan keterbatasan fasilitas kesehatan. Selain memberikan pelayanan kuratif, ia juga aktif memperkuat edukasi kesehatan, pencegahan penyakit kronis, serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan setempat.
Salah satu pengalaman paling berkesan dialaminya saat bertugas di Kecamatan Manis Mata, wilayah perbatasan Kalimantan Barat–Kalimantan Tengah. Jarak yang jauh, kondisi jalan yang sulit, cuaca yang tidak menentu, hingga keterbatasan sarana diagnostik menjadi tantangan dalam menangani pasien.
“Dalam situasi seperti itu, saya berusaha tidak hanya memberikan pengobatan, tetapi juga meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya, menjelaskan kondisi penyakit dengan bahasa yang mudah dipahami, serta bekerja sama dengan tenaga kesehatan setempat dan tokoh masyarakat agar edukasi kesehatan dapat diterima dengan lebih baik,” jelasnya.
Selain bertugas sebagai dokter spesialis, dr. Juhendro juga memimpin kegiatan bakti sosial Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di daerah pedalaman. Pengalaman tersebut mengajarkannya pentingnya kepemimpinan, koordinasi, dan kerja sama tim dalam memastikan pelayanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Sebagai putra daerah, ia mengajak mahasiswa kedokteran dan dokter spesialis muda lulusan FK Universitas Diponegoro agar tidak ragu mengabdi di daerah. Menurutnya, kehadiran dokter spesialis di wilayah dengan keterbatasan akses kesehatan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi kesempatan untuk berkembang sebagai dokter yang adaptif, kreatif, dan berjiwa pengabdian.
“Jangan pernah memandang pengabdian di daerah sebagai sebuah keterpaksaan, tetapi sebagai kesempatan untuk memberikan dampak yang nyata,” pesannya. (Humas FK Undip/Saradita/Erman)




