LONDON – Keberhasilan alumni Program Studi Profesi Doktor Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip) kembali mewarnai panggung internasional. Diaza Okadimar Ariyanto, MD, MRes, DIC, kini menorehkan prestasi sebagai Visiting Researcher di Centre for the Clinical Application of Particles (CCAP), Imperial College London—salah satu pusat riset bergengsi di dunia dalam pengembangan teknologi akselerator partikel untuk bidang medis.
Namun, perjalanan menuju posisi tersebut ternyata tidak dimulai dari ambisi besar. Justru, kisahnya berawal dari sebuah proses ilmiah yang sederhana: mengerjakan tesis S2.
Berawal dari Tesis yang Membuka Jalan ke Panggung Global
Saat menjalani studi Magister di Inggris, Diaza terlibat dalam proyek besar bernama LhARA (Laser-hybrid Accelerator for Radiobiological Applications)—sebuah inisiatif multidisiplin yang mencoba menghadirkan terobosan dalam teknologi radiasi proton.
Proyek ini berada di bawah CCAP, kolaborasi lintas institusi yang melibatkan Fakultas Kedokteran, Departemen Fisika, the Imperial Academic Health Science Centre, Cancer Research UK (CRUK) Cancer Centre, Institute of Cancer Research (ICR), hingga John Adams Institute dan Oxford Institute for Radiation Oncology.
Awalnya, tidak ada rencana khusus menuju posisi riset jangka panjang.
“Sebenarnya dari awal tidak ada target untuk menjadi visiting researcher di sana. Aku hanya menjalani tesis, dan kebetulan project-nya memang bagian dari struktur besar CCAP,” kenang Diaza kepada FK Undip pada Rabu (10/12/2025).
Namun setelah lulus, pembimbingnya—yang juga memimpin sub-departemen CCAP sekaligus proyek LhARA—melihat potensi lanjutan dari riset yang telah dikerjakannya. Karena proyek bersifat jangka panjang dan multidisiplin, keterlibatan Diaza tetap dibutuhkan. Statusnya pun beralih menjadi Visiting Researcher, membuka jalan baru menuju riset internasional yang lebih intensif.
Jejak FK Undip dalam Pembentukan Mindset Riset
Ketika ditanya pengalaman apa di FK Undip yang paling berpengaruh terhadap perjalanan akademiknya, Diaza menyebut bahwa tidak ada satu momen khusus. Semua pengalaman—baik manis maupun pahit—membentuk karakternya saat ini.
Namun, ada satu hal yang ia sebut sebagai fondasi utama: ideologi dan moralitas.
“Hal paling krusial yang aku pelajari sejak S1 dan koas adalah ideologi. Penting untuk punya prinsip yang kita pegang kuat, meski banyak godaan dan rintangan,” ujarnya.
Bagi Diaza, integritas adalah hal yang harus terus dijaga, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Nilai-nilai inilah yang menurutnya paling membantunya bertahan dan berkembang di dunia akademik internasional.

Mengembangkan Teknologi Radioterapi Masa Depan
Dalam proyek LhARA, riset Diaza berfokus pada pengembangan desain baru untuk radiasi proton—metode radioterapi yang menawarkan keuntungan besar bagi pasien kanker karena efek sampingnya yang lebih ringan dibandingkan radiasi foton konvensional.
Saat ini, hanya sekitar 160 mesin radioterapi proton tersebar di dunia, dengan konsentrasi terbesar di Amerika Serikat dan Jepang. Biaya fasilitas yang ekstrem, terutama karena kebutuhan particle accelerator seperti siklotron, membuat teknologi ini sulit diakses negara berkembang termasuk Indonesia.
LhARA menawarkan terobosan penting.
Proyek ini mengembangkan teknologi radiasi proton berbasis laser, bukan akselerator partikel tradisional. Dengan desain yang lebih ringkas dan biaya lebih rendah, teknologi ini diharapkan dapat memperluas akses terhadap radioterapi proton serta membuka peluang riset baru seperti radioterapi FLASH, yang memanfaatkan dose rate ultra tinggi dengan potensi efek terapetik yang lebih baik.
“Fasilitas berbasis laser diharapkan lebih terjangkau dan mampu menghasilkan energi serta laju dosis yang lebih tinggi,” jelas Diaza. Inovasi ini dinilai dapat membuka babak baru dalam dunia onkologi global.
Tantangan Karier: Mencari Mentor yang Tepat
Salah satu refleksi paling kuat dari perjalanan Diaza adalah bahwa tantangan terbesar dalam karier bukanlah kemampuan akademik atau hard skill. Melainkan, menemukan mentor yang tepat.
“Mentor yang baik bisa make or break karir kita. Mereka tidak hanya memberi arah dalam akademik, tapi juga dalam kehidupan,” kata dia.
Diaza merasa beruntung selama menjadi mahasiswa FK Undip ia dipertemukan dengan para senior yang tepat, yang hingga kini tetap menjadi figur penting dalam perjalanan hidupnya. Bagi dia, inilah salah satu elemen kunci yang mengarahkan langkahnya hingga ke panggung riset internasional.
Karya Ilmiah yang Paling Berkesan
Dari berbagai publikasi, pedoman klinis, dan penelitian internasional yang pernah ia tulis, Diaza menyebut sebuah case report tentang Central Neurocytoma, salah satu kanker otak terlangka, sebagai karya yang paling membekas.
Bukan karena kompleksitas kasusnya, tetapi karena momen itu menjadi titik pertemuannya dengan mentor yang kemudian berperan besar dalam perjalanan karier dan pribadinya.
“Momen itu seperti titik awal mula aku bisa sampai seperti sekarang,” kata dia.
Critical Thinking adalah Kunci Dunia Global
Melihat pesatnya perkembangan dunia kedokteran dan melimpahnya informasi era digital, Diaza menekankan pentingnya satu kompetensi utama: critical thinking.
Menurutnya, mahasiswa kedokteran harus mampu menelaah informasi medis secara kritis—tidak hanya menerima begitu saja opini atau data, meskipun berasal dari profesor, dokter terkenal, atau jurnal ilmiah terkemuka.
“Artikel ilmiah di jurnal sebesar Nature pun tidak selalu 100% benar. Kemampuan menelaah informasi ilmiah harus dilatih seperti skill medis lainnya.”
Ia mengingatkan bahwa dokter yang tidak kritis bisa terjebak manipulasi biostatistik dan memberi intervensi yang tidak bermanfaat bagi pasien.
“Kita punya kewajiban moral untuk melindungi masyarakat. Ini kunci utama jika ingin bersaing di dunia global.”
Peluang Kolaborasi FK Undip dengan Inggris: Mulai dari Fondasi Internal
Mengenai peluang kolaborasi FK Undip dengan institusi riset di Inggris, khususnya radioterapi dan akselerator partikel, Diaza memberikan pandangan realistis.
Riset radiobiologi di Indonesia masih sangat terbatas, terutama karena minimnya ahli dan fasilitas. Menurutnya, sebelum menjalin kolaborasi internasional, FK Undip perlu memperkuat kapasitas internal terlebih dahulu—membangun ekosistem penelitian yang sesuai, mulai dari SDM hingga fasilitas.
“Untuk catch up dengan riset global, butuh investasi panjang. Tapi penting untuk mulai perlahan.”
Menginspirasi Generasi Berikutnya
Kisah perjalanan Diaza dari Semarang menuju Imperial College London menunjukkan bahwa jalan menuju dunia riset global tidak harus dimulai dari target besar. Terkadang, kesempatan datang dari proses yang dijalani dengan tekun, integritas, dan kemauan untuk terus belajar.
Nilai-nilai yang ia bawa dari FK Undip, mentor yang ia temui sepanjang perjalanan, serta komitmennya untuk berpikir kritis menjadi bekal penting yang mengantarnya pada posisi hari ini.
Melalui kisah ini, FK Undip berharap semakin banyak mahasiswa dan alumni yang tergerak untuk melihat dunia lebih luas, berani mengambil peluang, dan terus membawa nama Indonesia dalam panggung ilmiah internasional.(Humas FK Undip/Sara)




