Deteksi Dini dan ARV Jadi Kunci Pengendalian HIV: Penjelasan Dokter Spesialis FK Undip

SEMARANG — Upaya pencegahan dan pengobatan HIV (human immunodeficiency virus) terus menjadi perhatian penting dalam layanan kesehatan masyarakat. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi serta dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), Dr. dr. Nur Farhanah, M.Si.Med, Sp.PD-KPTI, menegaskan bahwa pasien HIV tidak serta-merta terjangkit AIDS (Acquire immune Deficiency Syndrome). Kondisi tersebut membutuhkan waktu tiga hingga lima tahun apabila tidak segera dikenali dan diterapi  dengan ARV.

Menurutnya, deteksi dini dan pengobatan antiretroviral (ARV) menjadi langkah krusial untuk menekan perkembangan virus. Obat ARV bekerja menurunkan viral load HIV hingga ke kadar sangat rendah, bahkan bisa tidak terdeteksi pada pemeriksaan laboratorium.

 

Pencegahan: Dimulai dari Pemeriksaan Ibu Hamil hingga Penggunaan Pengaman

dr. Nur Farhanah menjelaskan bahwa pencegahan HIV/AIDS dapat dilakukan melalui beberapa langkah, antara lain:

  • pemeriksaan antenatal care (ANC) untuk ibu hamil,
  • penggunaan pengaman saat berhubungan seksual,
  • menghindari hubungan seksual berisiko,
  • tidak berbagi jarum suntik,
  • serta mengonsumsi obat pencegahan (profilaksis).

Pemeriksaan ANC menjadi bagian dari program pemerintah untuk mengeliminasi HIV, sifilis, dan hepatitis pada ibu hamil.

“Jika ada ibu hamil yang ketahuan terinfeksi HIV, maka segera diobati sehingga janinnya tidak terinfeksi,” tegasnya. Semakin cepat infeksi terdeteksi, semakin besar peluang bayi lahir dalam kondisi sehat.

Selain itu, perilaku seksual yang bertanggung jawab juga menjadi faktor penting. Kesetiaan pada pasangan dan penggunaan kondom dianjurkan untuk menekan risiko penularan.

 

Risiko Penularan Lewat Jarum Suntik

Penularan HIV melalui penggunaan jarum suntik bersama masih menjadi kasus yang perlu diwaspadai.

dr. Nur Farhanah menjelaskan, “Yang bahaya menggunakan jarum suntik ‘sharing’, terutama narkoba yang penggunaannya lewat jarum suntik.”

Jarum suntik yang tidak steril berpotensi membawa virus dari satu orang ke orang lain, sehingga edukasi mengenai penggunaan alat suntik sekali pakai harus terus digencarkan.

 

Peran ARV dan Pentingnya Dukungan Sosial

Pada orang dengan HIV, sistem kekebalan tubuh melemah sehingga rentan terhadap infeksi lain. Karena itu, pengobatan ARV sangat penting untuk menjaga kondisi pasien tetap stabil.

Di luar pengobatan medis, dukungan dari keluarga dan orang sekitar juga berperan besar dalam keberhasilan terapi.

“Sejauh ini jika mendapat dukungan atau support dari teman atau keluarga, saya lihat perubahannya luar biasa,” ungkapnya.

 

Layanan Pemeriksaan dan Pengobatan HIV Tersedia Gratis

dr. Nur Farhanah menambahkan bahwa pemerintah menyediakan layanan pemeriksaan HIV/AIDS dan pengobatan ARV secara gratis. Hal ini bertujuan menurunkan jumlah infeksi baru dan memastikan pasien mendapatkan terapi dengan cepat dan tepat.

Masyarakat yang merasa pernah melakukan aktivitas berisiko dianjurkan segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan. Himbauan untuk melakukan tes sedini mungkin pada mereka yang memiliki faktor risiko terinfeksi HIV sangat penting, sehingga keputusan pengobatan ARV menjadi lebih cepat. Deteksi dini dan terapi ARV akan menghambat progresifitas ke arah AIDS dan kualitas hidup akan lebih baik dan mencegah transmisi atau penularan kepada orang lain.(*)

Bagikan di:

Berita Terkait

Kategori

Berita Terkini

Layanan Akademik

Layanan Aduan

Acara