SEMARANG – Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip) kembali memperkuat jajaran akademiknya melalui pengukuhan Prof. Dr. dr. Alifiati Fitrikasari, Sp.KJ(K) sebagai Guru Besar oleh Senat Akademik Universitas Diponegoro, di Gedung Prof. Sudarto, Tembalang pada Jumat (30/1/2026). Dia adalah guru besar pertama di Program Studi Pskiatri Fakultas Kedokteran Undip.
Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Alifiati mengangkat tema “Potensi Probiotik sebagai Terapi Adjuvan Depresi”, sebuah topik yang dinilai relevan dengan tantangan kesehatan mental saat ini.
Ia menyampaikan bahwa penggunaan probiotik berpotensi mendukung efektivitas terapi antidepresan standar, mempercepat perbaikan gejala, mengurangi efek samping obat, meningkatkan kepatuhan pasien, serta menurunkan angka kekambuhan. Hal ini menjadikan probiotik relevan sebagai terapi adjuvan, termasuk pada pasien depresi dengan komorbid penyakit fisik seperti kanker.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi Lactobacillus rhamnosus Rosell-11 dan Lactobacillus helveticus Rosell-52 dengan dosis 2×10⁹ CFU, dua kali sehari selama delapan minggu, mampu menurunkan gejala depresi secara bermakna, baik pada pasien depresi maupun pasien kanker yang mengalami depresi.

Prof. Alifiati menjelaskan bahwa depresi tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis, tetapi juga berhubungan dengan ketidakseimbangan mikrobiota usus, yang berperan penting dalam regulasi zat kimia otak dan suasana perasaan seseorang. Berdasarkan studi pada hewan coba maupun studi klinis, probiotik terbukti dapat membantu memperbaiki gejala depresi.
“Strain Lactobacillus dan Bifidobacterium merupakan strain probiotik yang saat ini banyak digunakan sebagai terapi adjuvan pada depresi,” ungkapnya.
Meski demikian, Prof. Alifiati juga menyoroti sejumlah tantangan dalam penerapan probiotik sebagai terapi adjuvan depresi, antara lain variasi kondisi depresi dan komorbiditas yang memengaruhi respons terapi, keterbatasan data strain probiotik spesifik pada populasi Indonesia, pengaruh gaya hidup seperti pola makan dan kebiasaan merokok, hingga perlunya standar strain, dosis, pembiayaan asuransi, serta edukasi bagi masyarakat dan tenaga kesehatan.
“Dengan pendekatan yang tepat, probiotik berpotensi dikembangkan sebagai terapi adjuvan depresi, termasuk pada pasien dengan penyakit fisik kronis, dalam strategi penanganan yang komprehensif dan berjangka panjang,” pungkasnya.

Sementara itu, dalam sambutannya, Rektor Universitas Diponegoro Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. berharap pengukuhan Guru Besar ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian berbagai persoalan bangsa.
“Guru besar adalah insan akademik dengan kepakaran tertinggi. Diharapkan keilmuannya tidak berhenti di skala laboratorium, tetapi dapat dimanfaatkan secara luas untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Pengukuhan ini menegaskan komitmen FK Undip dalam mendorong pengembangan ilmu kedokteran yang unggul, inovatif, serta responsif terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat, termasuk di bidang kesehatan jiwa.(*)




