KUALA LUMPUR — Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip) yang tergabung dalam organisasi DIMER-C FK Undip berhasil meraih Silver Medal pada 2nd International Student Competition (ISC) 2026 yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 14–15 Februari 2026. Prestasi ini menegaskan daya saing mahasiswa FK Undip di tingkat internasional melalui inovasi berbasis potensi bahan alam Indonesia.
Tim mahasiswa FK Undip dipimpin oleh Samuel Davinci (angkatan 2024) dengan anggota Fahmi Istikmal Akbar (2023), Joana Alya Varojahan Sinaga (2024), Keyshasi Cintanaya Sakti (2024), dan Maisha Rayya Ghita Kalani (2023). Seluruh tim berasal dari Program Studi Kedokteran Umum FK Undip dan berada di bawah bimbingan dr. Lusiana Batubara, M.Si.Med.
Dalam kompetisi tersebut, tim DIMER-C FK Undip mengusung karya berjudul ChitoFreeze, sebuah inovasi gel topikal pereda nyeri yang mengombinasikan kitosan dengan ekstrak andaliman, rempah khas Indonesia. Produk ini dikembangkan sebagai alternatif analgesik alami untuk membantu mengatasi nyeri otot dan sendi melalui mekanisme anti-inflamasi dan efek sensasi dingin, sekaligus mengangkat potensi bahan alam lokal agar mampu bersaing secara ilmiah di tingkat global.
“Melalui karya ini, kami ingin mengangkat potensi bahan alam lokal Indonesia agar dapat dikembangkan secara ilmiah dan bersaing di tingkat internasional, sekaligus memberikan solusi kesehatan yang lebih aman dan berkelanjutan,” ujar salah satu anggota, Fahmi Istikamal Akbar.
Fahmi menjelaskan bahwa proses pengembangan karya menghadapi tantangan koordinasi, mengingat anggota tim berasal dari angkatan dan jadwal akademik yang berbeda. Namun, tantangan tersebut justru melatih tim untuk bekerja lebih terstruktur, menjaga komunikasi intensif, serta saling melengkapi peran hingga mampu menampilkan prototipe secara optimal di ajang internasional.

Dosen pembimbing tim, dr. Lusiana Batubara, M.Si.Med, menilai capaian Silver Medal ini sebagai hasil dari proses belajar yang konsisten dan kolaboratif. Menurutnya, kompetisi internasional tidak hanya menguji pengetahuan, tetapi juga kemampuan mahasiswa dalam mengomunikasikan ide secara jelas dan relevan dalam konteks global.
“Medali ini bukan sekadar hasil akhir, melainkan refleksi dari proses belajar yang sehat, kerja tim yang baik, serta semangat untuk terus berkembang. Mahasiswa FK Undip memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat internasional,” ujarnya.
Dalam proses pendampingan, pembimbing memberikan arahan strategis dan penguatan motivasi, sementara mahasiswa menjadi penggerak utama sejak pengembangan ide, eksplorasi literatur, hingga penyusunan materi kompetisi dan pelaksanaan di Kuala Lumpur. Ia berharap capaian ini menjadi langkah awal untuk membangun tradisi prestasi internasional yang berkelanjutan di lingkungan FK Undip.
Prestasi ini menegaskan komitmen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dalam mendukung pengembangan inovasi mahasiswa, memperkuat budaya riset, serta mendorong mahasiswa untuk berani berkiprah dan berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. (Humas FK Undip)




