SEMARANG – Prestasi gemilang Kembali ditorehkan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2025 yang digelar di Universitas Hasanuddin, Makassar pada November 2025. Mahasiswa Program Studi Kedokteran, Ihdina Ila Firdausy Susanto sukses membawa pulang Medali Perak Kategori Presentasi dan Medali Perak Kategori Poster bersama Tim Tridaxdots melalui riset inovatif bertema “Pengembangan Agen Nano-teranostik Berbasis Nitrogen-Doped Carbon Quantum Dots dari Tridax procumbens untuk Diagnosis dan Terapi pada Kanker Serviks.”
Prestasi ini menjadi capaian penting karena riset yang diusung menggabungkan pendekatan kedokteran, teknologi nano dan eksplorasi tanaman herbal sebagai agen diagnostik sekaligus terapi kanker.
Ihdina menjelaskan, riset timnya berangkat dari tingginya kanker serviks di Indonesia, yang masih menjadi kanker ginekologi terbesar kedua di tanah air. Kondisi ini mendorong Tim Tridaxdots mencari pendekatan diagnostik dan terapi yang lebih efektif, inovatif, dan terjangkau.
“Kami melihat tingginya angka kasus kanker serviks secara global maupun di Indonesia sendiri. Hal ini membuat kanker serviks menjadi topik utama dalam tujuan pengaplikasian riset kami,” ujar Ihdina pada Kamis (5/12/2025).
Dalam proses eksplorasi, ia dan tim menemukan potensi besar Carbon Quantum Dots (CQDs) sebagai agen nano-teranostik—zat yang memiliki fungsi ganda untuk diagnosis dan terapi. Tanaman Tridax procumbens atau gletang dipilih sebagai bahan utama karena kandungan alkaloid dan senyawa aktif lain yang diperlukan untuk menghasilkan fluoresensi CQDs. CQDs dipilih karena ukuran partikelnya yang sangat kecil—kurang dari 10 nm—serta kemampuannya memancarkan cahaya ketika terkena sinar UV.
“Carbon Quantum Dots memiliki sifat fluoresensi dan ukuran nano yang sangat ideal untuk diagnosis dan terapi sel kanker,” jelasnya.
Sifat fluoresensi ini memungkinkan partikel digunakan sebagai penanda visual, sementara ukuran nanopartikel membantu penetrasi ke dalam sel kanker. Penelitian dimulai sejak proposal lolos pendanaan Belmawa-Dikti. Selama empat bulan, tim menjalani proses panjang mulai dari:
- pengolahan daun Tridax procumbens menggunakan metode microwave irradiation,
- pengujian fluoresensi,
- serangkaian karakterisasi (UV-Vis, FTIR, PL, PSA, Zeta Potential),
- hingga uji aplikasi secara in vitro menggunakan kultur sel HeLa.
“Kami banyak mengalami kegagalan, terutama dalam sintesis NCQDs yang sering tidak sesuai harapan,” aku Ihdina.
Namun ia menegaskan bahwa ketekunan dan kerja tim menjadi kunci.
“Kami hampir menyerah, tapi tantangan itu justru membuat kami belajar memutar otak, mencari solusi, dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin,” katanya.
Kesuksesan penelitian ini tidak lepas dari dukungan dosen pendamping serta fasilitas laboratorium FK Undip.
“Dosen pendamping membantu sejak ide dasar, teknik laboratorium, hingga interpretasi hasil uji. Pengurusan ethical clearance juga didukung penuh oleh FK Undip sehingga prosesnya cepat,” ujarnya.
Pembelajaran di kelas juga berperan besar, terutama mengenai dasar-dasar kanker serviks, patofisiologi, transport membran, dan konsep terapi kanker.
Menghadapi juri dan audiens dari berbagai disiplin bukan hal mudah. Ihdina dan tim menjalani bimbingan intensif dengan dosen dan Taskforce PKM Undip. Usaha tersebut membuahkan hasil dengan perolehan dua medali perak.Momen kemenangan pun menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
“Yang paling berkesan ketika nama kami dipanggil dan kami berlari membawa bendera Undip di hadapan ribuan orang. Alhamdulillah, kami sangat bersyukur,” tuturnya.

Ihdina menyebut bahwa riset ini masih memiliki jalan panjang menuju pengembangan klinis. Tahap berikutnya melibatkan uji toksisitas pada sel normal, uji in vivo pada hewan, serta uji terapi berbasis PTT dan PDT (Photo Thermal & Photo Dynamic Therapy).
Lebih dari sekadar prestasi, pengalaman penelitian ini memberi Ihdina perspektif baru tentang perjalanan akademik di FK Undip. Ia menekankan bahwa penelitian bukan hanya soal hasil akhir, tetapi tentang proses bertumbuh sebagai calon dokter dan ilmuwan.
“Jangan ragu untuk mulai meneliti. Kembangkan skill, critical thinking, dan rasa penasaran kalian. Gunakan waktu dan kesempatan untuk kegiatan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain,” pesannya.
Ia berharap semakin banyak mahasiswa FK Undip yang berani mencoba, mengeksplorasi ide, berdiskusi dengan dosen, hingga menantang diri mengikuti kompetisi ilmiah. Bagi Ihdina, penelitian adalah ruang untuk menemukan potensi diri, memperluas wawasan, dan memberi kontribusi nyata untuk dunia kesehatan di masa depan.
Prestasi Ihdina dan Tim Tridaxdots mempertegas komitmen FK Undip dalam mendukung mahasiswa berprestasi dan memperkuat budaya riset. Fakultas berharap capaian ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi dan berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional.(Humas FK Undip/Sara)




