SEMARANG – Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), Prof. Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko, M.Kes., Sp.B., Subsp.Onk(K), resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Bedah Onkologi pada Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas Diponegoro, yang digelar di Gedung Prof. Sudarto, Kampus Undip Tembalang, Senin (26/1/2026).
Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Kanker Payudara Usia Muda pada Populasi Indonesia: Strategi Penurunan Insidensi dan Tatalaksana Komprehensif Berbasis Genetic Profiling Spesifik”, Prof. Yan Wisnu menyoroti kanker payudara usia muda sebagai tantangan serius kesehatan nasional yang tidak hanya berdampak klinis, tetapi juga sosial, ekonomi, dan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Ia memaparkan bahwa secara global kanker payudara masih menjadi kanker tersering pada perempuan, dengan lebih dari 2,3 juta kasus baru setiap tahun. Di Indonesia, berdasarkan data GLOBOCAN 2022, kanker payudara menempati urutan pertama dengan insidensi 41,8 per 100.000 penduduk, dan sekitar 21 persen kasus terjadi pada kelompok usia 35–39 tahun. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan karena kanker payudara usia muda memiliki karakteristik biologis yang lebih agresif, risiko kekambuhan lebih tinggi, serta mortalitas yang lebih besar dibandingkan kelompok usia lanjut.
Melalui pidatonya, Prof. Yan Wisnu menekankan pentingnya pendekatan komprehensif dan presisi dalam penanganan kanker payudara usia muda, mulai dari penguatan deteksi dini, penurunan insidensi, hingga tata laksana multimodal yang terintegrasi. Pendekatan tersebut mencakup pembedahan, kemoterapi, radioterapi, terapi endokrin, dan terapi target yang direncanakan secara multidisiplin, sekaligus memperhatikan aspek kualitas hidup, konseling fertilitas, dan dukungan psikososial pasien.
Ia juga menyoroti peran genetic profiling, khususnya deteksi mutasi PIK3CA, sebagai dasar pengambilan keputusan terapi yang lebih tepat dan personal. Menurutnya, pemahaman karakteristik biologis dan genetik populasi Indonesia menjadi kunci untuk menghindari pendekatan “one size fits all” dalam terapi kanker payudara, serta meningkatkan efektivitas pengobatan sekaligus menekan toksisitas yang tidak perlu.
“Kanker payudara usia muda bukan hanya persoalan individu, tetapi menyangkut ketahanan sumber daya manusia bangsa. Oleh karena itu, strategi penanganannya harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang bagi kesehatan, produktivitas, dan kualitas generasi masa depan,” tegas Prof. Yan Wisnu dalam pidato pengukuhannya.
Sementara itu dalam sambutannya, Rektor Undip Prof. Suharnomo. S.E., M.Si mengatakan, Prof Yan telah mengantarkan Fakultas Kedokteran Undip masuk dalam QS World University Rankings (WUR) by Subject 2025 bidang Medicine.
“Prof Yan membawa Fakultas Kedokteran menjadi bagian dari World Class University,” tuturnya.
Sidang pengukuhan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan Universitas Diponegoro, Senat Akademik, Dewan Profesor, perwakilan kementerian dan lembaga negara, pimpinan rumah sakit pendidikan, sivitas akademika FK Undip, serta tamu undangan lainnya. Pengukuhan ini sekaligus menegaskan kontribusi Prof. Yan Wisnu dalam pengembangan ilmu bedah onkologi, khususnya dalam menghadirkan pendekatan penanganan kanker payudara yang berbasis bukti ilmiah, relevan dengan kebutuhan nasional, dan berpihak pada kemanusiaan.
Melalui pengukuhan Guru Besar ini, FK Undip menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pengembangan ilmu kedokteran yang unggul, inovatif, dan berdampak nyata bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.(*)




