Workshop Assessment BBDM dan Pelatihan Tutor Perkuat Kualitas Pembelajaran Berbasis Mahasiswa di FK UNDIP

Semarang – Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP) menyelenggarakan Workshop Assessment Belajar Berdasarkan Diskusi Mahasiswa (BBDM) dan Pelatihan Tutor BBDM sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis mahasiswa (student-centered learning) sekaligus memperkuat kompetensi dosen dalam menjalankan peran sebagai tutor. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Mayjen R. Soewondo FK UNDIP ini diikuti oleh para tutor dan calon tutor BBDM di lingkungan FK UNDIP.
Acara diawali dengan registrasi peserta, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembukaan kegiatan, dan sesi foto bersama. Workshop kemudian memasuki sesi ilmiah yang menghadirkan tiga narasumber untuk membahas implementasi BBDM dari berbagai aspek, mulai dari pelaksanaan tutorial, peran tutor, hingga sistem asesmen yang mendukung proses pembelajaran.
Workshop ini menjadi bagian dari komitmen FK UNDIP dalam menyempurnakan pelaksanaan BBDM melalui evaluasi sistem pembelajaran, penguatan kompetensi tutor, dan penyamaan persepsi terhadap implementasi metode pembelajaran berbasis masalah.

Prof. Dr. dr. Tri Nur Kristina, DMM, M.Kes., menyampaikan materi mengenai Rationale BBDM dan Assessment pada Proses BBDM dalam Workshop Assessment BBDM dan Pelatihan Tutor BBDM FK UNDIP.

Sesi pertama dipandu oleh moderator dr. RR Mahayu Dewi Ariani, M.Si.Med. Materi pertama disampaikan oleh Dr. dr. Neni Susilaningsih, M.Si., AHK(K) mengenai Seven Jump (7 Langkah) dalam BBDM. Ia menjelaskan bahwa metode BBDM mengacu pada pendekatan Problem-Based Learning (PBL) yang menempatkan mahasiswa sebagai pusat proses pembelajaran.
Menurutnya, terdapat tujuh tahapan utama yang harus dilalui mahasiswa, yaitu klarifikasi istilah, identifikasi masalah, analisis masalah, penyusunan hipotesis, penetapan sasaran belajar, belajar mandiri, serta sintesis hasil pembelajaran melalui diskusi kedua. Dr. Neni menegaskan bahwa setiap tahapan memiliki tujuan untuk membangun kemampuan mahasiswa dalam berpikir sistematis dan menyelesaikan permasalahan secara ilmiah.

“Mahasiswa harus membangun pengetahuannya sendiri melalui proses diskusi dan belajar mandiri. Tutor bertugas memfasilitasi jalannya diskusi sehingga mahasiswa aktif berpikir, bukan memberikan jawaban secara langsung,” jelasnya.

 

Dr. dr. Neni Susilaningsih, M.Si., AHK(K), menyampaikan materi mengenai Seven Jump (7 Langkah) dalam Belajar Berdasarkan Diskusi Mahasiswa (BBDM) sebagai dasar penerapan pembelajaran berbasis masalah di FK UNDIP.

Ia juga menjelaskan adanya penyempurnaan pada penyusunan laporan kelompok. Jika sebelumnya laporan berbentuk narasi yang cukup panjang, kini laporan difokuskan pada pengembangan peta konsep (mind map) yang terus diperbarui berdasarkan hasil belajar mandiri. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi beban administratif mahasiswa sekaligus mengembalikan fokus pada proses pembelajaran. Materi kedua disampaikan oleh dr. Lathifa Putry Fauzia, MHPE mengenai Peran Tutor dalam Tutorial BBDM. Dalam paparannya, dr. Lathifa menjelaskan bahwa perubahan paradigma pendidikan kedokteran dari teacher-centered learning menuju student-centered learning menuntut perubahan peran dosen. Tutor tidak lagi berfungsi sebagai penyampai materi, melainkan sebagai fasilitator yang mampu membimbing mahasiswa melalui pertanyaan-pertanyaan pemicu (probing questions), memberikan umpan balik yang konstruktif, serta menjaga dinamika diskusi kelompok.

Menurutnya, keberhasilan tutor tidak diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, tetapi dari kemampuan membangun suasana diskusi yang aktif sehingga mahasiswa mampu menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri. “Tutor harus mampu mendorong mahasiswa berpikir kritis, menganalisis permasalahan, serta berkolaborasi dengan anggota kelompok. Fokus utama tutor adalah proses belajar mahasiswa, bukan memberikan kuliah tambahan,” ujarnya.

dr. Lathifa Putry Fauzia, MHPE, menyampaikan materi mengenai Peran Tutor dalam Tutorial BBDM sebagai upaya memperkuat pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa di FK UNDIP.

Ia juga mengulas tantangan pembelajaran di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Menurutnya, penggunaan AI tidak dapat dihindari, namun mahasiswa harus dibimbing agar mampu mengevaluasi dan memverifikasi informasi yang diperoleh sehingga tetap menggunakan sumber ilmiah yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Selanjutnya, Prof. Dr. dr. Tri Nur Kristina, DMM, M.Kes. menyampaikan materi mengenai Rationale BBDM dan Assessment pada Proses BBDM. Prof. Tri Nur Kristina menjelaskan bahwa BBDM merupakan implementasi pendekatan Problem-Based Learning yang dirancang untuk membentuk dokter yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan pembelajaran sepanjang hayat.

Ia menekankan bahwa pembelajaran berbasis masalah memberikan retensi pengetahuan yang lebih baik dibandingkan metode ceramah konvensional karena mahasiswa secara aktif membangun pemahamannya melalui proses diskusi dan belajar mandiri. Selain menjelaskan landasan filosofis BBDM, Prof. Tri Nur Kristina juga memaparkan penyempurnaan sistem asesmen yang akan diterapkan mulai semester berjalan. Asesmen BBDM, menurutnya, tidak hanya menilai penguasaan materi, tetapi juga mengevaluasi proses belajar mahasiswa, meliputi kedisiplinan, komunikasi, profesionalisme, partisipasi dalam diskusi, kualitas hasil belajar mandiri, hingga kemampuan menyusun peta konsep sebagai representasi pemahaman terhadap kasus yang dipelajari.

Ia juga menjelaskan bahwa penyederhanaan laporan kelompok menjadi salah satu langkah untuk mengurangi aktivitas administratif yang tidak mendukung pencapaian kompetensi, sehingga mahasiswa dapat lebih fokus pada proses berpikir dan diskusi ilmiah. Setelah setiap pemaparan materi, peserta mengikuti sesi diskusi interaktif bersama narasumber. Berbagai isu strategis dibahas, antara lain penyusunan skenario BBDM, pengembangan sasaran belajar, penyempurnaan rubrik asesmen, penggunaan referensi ilmiah, hingga pemanfaatan Artificial Intelligence dalam pembelajaran kedokteran. Para narasumber sepakat bahwa AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar, namun tidak boleh menggantikan proses berpikir kritis mahasiswa. Kemampuan untuk mengevaluasi validitas sumber informasi tetap menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki calon dokter.

Peserta workshop bersama mahasiswa mengikuti Simulasi Tutorial BBDM yang dipandu oleh Tim Medical Education Unit (MEU) FK UNDIP. Sesi ini memberikan kesempatan bagi para tutor untuk mempraktikkan teknik fasilitasi diskusi dan penerapan asesmen sesuai standar BBDM.

Pada sesi kedua, peserta mengikuti Simulasi Tutorial BBDM dan Pembahasan yang difasilitasi oleh Tim Medical Education Unit (MEU) FK UNDIP. Simulasi ini memberikan kesempatan kepada para tutor untuk mempraktikkan langsung pelaksanaan tutorial sesuai standar yang telah dibahas selama workshop.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi Refleksi, Evaluasi, dan Penutupan yang dipandu oleh dr. Lathifa Putry Fauzia, MHPE. Melalui sesi ini, peserta bersama-sama merefleksikan hasil pembelajaran selama workshop sekaligus menyusun komitmen untuk menerapkan praktik terbaik dalam pelaksanaan BBDM di lingkungan FK UNDIP.
Melalui penyelenggaraan workshop ini, FK UNDIP berharap seluruh tutor memiliki pemahaman yang seragam mengenai pelaksanaan maupun asesmen BBDM sehingga mampu menghadirkan proses pembelajaran yang lebih efektif, kolaboratif, dan berpusat pada mahasiswa. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen FK UNDIP dalam menjaga mutu pendidikan kedokteran dan menghasilkan lulusan yang unggul, profesional, adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta siap memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat.(Humas FK Undip/Saradita/Erman)

Bagikan di:

Berita Terkait