Tim Fakultas Kedokteran Undip bersama DKK Kudus dan tenaga kesehatan usai kegiatan edukasi penyakit kulit menular di Kudus

Tim Dermatologi FK Undip Edukasi Penanganan Kusta dan Darurat Kulit di Kabupaten Kudus

KUDUS – Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip) melalui Program Studi Dermatologi, Venereologi dan Estetika (DVE) menyelenggarakan program pengabdian masyarakat di Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Jawa Tengah pada Rabu (6/5/2026). Kegiatan ini berfokus pada percepatan eliminasi kusta, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan kegawatdaruratan dermatologi, serta edukasi penyakit kulit menular di masyarakat.

Program ini melibatkan tenaga kesehatan puskesmas, dokter umum, serta kader kesehatan sebagai upaya memperkuat deteksi dini, edukasi, dan penanganan kasus penyakit kulit di tingkat layanan primer.

Ketua Bagian/Program Studi Dermatologi, Venereologi dan Estetika Fakultas Kedokteran Undip, dr. Buwono Puruhito, Sp.DVE, M.Biomed., menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kontribusi langsung kepada masyarakat.

“Pengabdian masyarakat merupakan salah satu pilar utama Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan ini mencerminkan komitmen Bagian Dermatologi dan Venereologi FK Undip untuk tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat,” ujar dr. Buwono.

Pemateri dari Fakultas Kedokteran Undip memberikan edukasi peningkatan kapasitas programer kusta kepada tenaga kesehatan di DKK Kudus
Pemateri FK Undip menyampaikan edukasi peningkatan kapasitas programer kusta melalui metode blended learning kepada tenaga kesehatan di Kabupaten Kudus.

Kepala DKK Kudus, Dr. dr. Abdul Hakam, M.Si.Med., Sp.A., menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang dilakukan FK Undip dalam mendukung peningkatan kapasitas tenaga kesehatan daerah.

“Dengan pemahaman yang lebih baik tentang kusta dan kegawatdaruratan kulit, kami yakin angka penemuan kasus dini akan meningkat dan penanganan pasien di tingkat primer akan semakin optimal,” jelasnya.

Salah satu sesi utama kegiatan membahas peningkatan kapasitas programer kusta puskesmas melalui metode blended learning. Materi disampaikan oleh Dr. dr. Renni Yuniati, Sp.DVE., Subsp.DT., M.H., yang menyoroti pentingnya penghapusan stigma terhadap pasien kusta.

“Masalah utama dalam penanganan kusta saat ini bukanlah ketiadaan obat, melainkan masih kuatnya stigma dan diskriminasi di masyarakat. Hal ini menyebabkan banyak penderita menyembunyikan penyakitnya dan baru berobat ketika sudah mengalami kecacatan,” ungkap dr. Renni.

Selain tenaga kesehatan, kader masyarakat juga dilatih untuk melakukan active case finding, mendampingi pasien sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO), serta mengedukasi masyarakat bahwa kusta dapat disembuhkan dan tidak mudah menular setelah pengobatan dimulai.

Kegiatan berikutnya difokuskan pada peningkatan kapasitas dokter umum dalam menangani kegawatdaruratan dermatologi. Materi disampaikan oleh Dr. dr. Puguh Riyanto, Sp.DVE., Subsp.Ven., yang membahas bahaya self-medication atau penggunaan obat tanpa pengawasan medis.

“Banyak kasus kegawatdaruratan kulit terjadi akibat konsumsi obat sembarangan tanpa pencatatan riwayat alergi. Melalui pelatihan ini, dokter umum dibekali algoritma penanganan awal dan kriteria rujukan yang tepat,” jelas dr. Puguh.

Dokter dari FK Undip memberikan simulasi edukasi penyakit kulit menular kepada masyarakat di Kabupaten Kudus
Tim FK Undip memberikan simulasi dan edukasi langsung terkait penyakit kulit menular serta penanganan dasar dermatologi kepada masyarakat.

Tim Fakultas Kedokteran Undip juga memberikan edukasi terkait penyakit kulit menular seperti skabies, infeksi jamur, dan pioderma melalui sesi yang dipresentasikan oleh Dr. dr. Radityastuti, Sp.DVE., Subsp.DA., FINSDV., FAADV. Edukasi ini dinilai penting mengingat Kabupaten Kudus memiliki 209 pondok pesantren dengan risiko penularan penyakit kulit yang cukup tinggi akibat kepadatan hunian.

Melalui kegiatan ini, FK Undip menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan layanan kesehatan masyarakat melalui edukasi promotif dan preventif, sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah dalam percepatan eliminasi kusta serta penanganan penyakit kulit di Indonesia. (*)

Bagikan di:

Berita Terkait