Semarang – Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP) memperkuat komitmen dalam penanganan penyakit stroke melalui pengembangan teknologi neuroengineering dan robotic rehabilitation. Komitmen ini diwujudkan melalui penandatanganan kerja sama antara FK UNDIP, Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSNI) Cabang Semarang, PT Indonesia Bersih, serta Politeknik SSR.
Penandatanganan kerja sama tersebut dilaksanakan dalam kegiatan Seminar Medis “World Stroke Day” yang digelar pada Minggu (9/11/2025) di Semarang, Jawa Tengah. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam pengembangan BCI–Robotic Neurorestorasi Neuroengineering PERDOSNI lintas kelompok kerja dan lintas profesi, dengan tujuan memperkuat layanan kesehatan saraf berbasis teknologi di Indonesia.
Wakil Dekan FK UNDIP Bidang Sumber Daya Manusia, Dr. Nuryanto, S.Gz., M.Gz., menyampaikan bahwa penerapan teknologi robotik di bidang neurologi merupakan terobosan penting untuk meningkatkan kualitas rehabilitasi pasien stroke.
“Kehadiran teknologi robotik akan membantu pasien stroke dalam melatih kembali fungsi motorik tubuh, mempercepat proses pemulihan, serta menurunkan angka disabilitas jangka panjang. FK UNDIP menyambut baik pengembangan teknologi ini sebagai upaya mendukung peningkatan layanan di bidang neuroscience,” ujar Dr. Nuryanto.
Lebih lanjut, Dr. Nuryanto menjelaskan bahwa kerja sama ini tidak hanya berfokus pada inovasi teknologi, tetapi juga pada penguatan pendidikan spesialis neurologi serta pengembangan pelayanan kesehatan di wilayah Indonesia Timur. FK UNDIP akan menyiapkan tenaga dosen dan dokter spesialis untuk mendampingi pelatihan tenaga medis di berbagai daerah.
Sementara itu, Ketua PERDOSNI Cabang Semarang, Dr. dr. Retnaningsih, Sp.N., Subsp. NIITCC (K), KIC, M.K., menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat penanganan penyakit stroke, khususnya melalui pendidikan kedokteran berkelanjutan.

“Kolaborasi ini difokuskan pada peningkatan kompetensi tenaga medis dan pengembangan teknologi di bidang neurorestoration, yakni pemulihan fungsi saraf pasca serangan stroke. Pendidikan kedokteran berkelanjutan harus terus dilakukan agar pelayanan neurologi tetap mutakhir dan masyarakat memperoleh pemulihan yang optimal,” jelasnya.
Melalui kerja sama ini, FK UNDIP berharap inovasi di bidang neuroengineering dan rehabilitasi robotik dapat menjadi model nasional dalam peningkatan kualitas hidup penyintas stroke. Selain itu, langkah ini diharapkan memperkuat posisi UNDIP sebagai pusat pengembangan ilmu kedokteran berbasis riset dan teknologi di Indonesia.
(Humas FK UNDIP)




