Tim DIMER-C FK Undip Raih Gold Medal I2ASPO 2025 lewat Inovasi Limbah Antibiotik

YOGYAKARTA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip). Tim Riset Inovasi dari Diponegoro Medical Research Community (DIMER-C) FK Undip berhasil meraih Gold Medal dalam ajang Indonesia International Applied Science Project Olympiad (I2ASPO) 2025 yang diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta pada 18-21 Desember 2025.

Tim DIMER-C FK Undip diketuai oleh Ahmad Zulfikar dan beranggotakan Fahmi Istikmal A., M. Saifan Zakka P., Maritza Bintang R., Najwa Haleski, serta Widiana Harrista. Keenam mahasiswa lintas angkatan ini berkolaborasi dalam riset berbasis kesehatan lingkungan yang berorientasi pada solusi berkelanjutan.

Keberhasilan ini diraih melalui riset inovatif bertajuk pengembangan membran nanofiltrasi berbasis PVDF yang dimodifikasi dengan fotokatalis komposit untuk pengolahan limbah antibiotik.

Ahmad Zulfikar menjelaskan bahwa inovasi ini mengintegrasikan fungsi filtrasi, adsorpsi, dan fotokatalitik dalam satu sistem. Pendekatan tersebut memungkinkan peningkatan efisiensi penyisihan polutan sekaligus menekan fouling membran, sehingga berpotensi menjadi solusi berkelanjutan terhadap pencemaran lingkungan akibat limbah antibiotik.

“Permasalahan limbah antibiotik tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berkontribusi terhadap munculnya resistensi bakteri. Riset kami menawarkan pendekatan yang tidak hanya menyisihkan, tetapi juga mendegradasi molekul antibiotik hingga tidak aktif secara biologis,” ungkap Ahmad.

Proses persiapan menuju kompetisi internasional ini dilakukan secara bertahap dan sistematis. Tim memulai dari perumusan ide, studi literatur mendalam, eksperimen laboratorium, hingga analisis data yang dievaluasi secara berkala bersama dosen pembimbing. Menjelang kompetisi, tim juga mempersiapkan presentasi ilmiah, poster, serta simulasi sesi penjurian agar penyampaian riset dapat dilakukan secara optimal.

Keunggulan riset Tim DIMER-C FK Undip terletak pada relevansi isu yang diangkat dengan tantangan kesehatan global, kebaruan pendekatan ilmiah, serta potensi aplikasinya di dunia nyata. Integrasi teknologi membran dan fotokatalisis dinilai mampu menjawab keterbatasan metode konvensional dalam pengolahan limbah antibiotik, yang selama ini masih menyisakan residu senyawa aktif.

“Kolaborasi dan konsistensi menjadi kunci utama kami dalam menyelesaikan riset ini,” ujarnya.

Keberhasilan ini juga tidak terlepas dari dukungan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, baik melalui lingkungan akademik yang kondusif, fasilitas riset, maupun pendampingan ilmiah. Selain itu, kolaborasi lintas disiplin turut memperkuat kualitas riset, khususnya melalui bimbingan Prof. Dr. Tutuk Djoko Kusworo, ST, M.Eng, PhD dari Teknik Kimia Undip yang memberikan arahan teknis terkait material membran dan rekayasa proses.

Menutup wawancara, Ahmad Zulfikar menyampaikan pesan kepada mahasiswa FK Undip untuk tidak ragu terlibat dalam riset dan kompetisi ilmiah.

“Riset adalah proses belajar yang membentuk cara berpikir kritis dan kerja sama tim. Dengan keberanian mencoba dan konsistensi, mahasiswa FK Undip memiliki potensi besar untuk berprestasi dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat,” tuturnya.

Prestasi ini semakin menegaskan komitmen FK Undip dalam mendorong budaya riset dan inovasi mahasiswa, sekaligus memperkuat peran institusi dalam menjawab tantangan kesehatan dan lingkungan di tingkat nasional maupun internasional.(Humas FK Undip)

 

Bagikan di:

Berita Terkait

Kategori

Berita Terkini

Layanan Akademik

Layanan Aduan

Acara