Jangan Tunggu Operasi! Hernia pada Bayi Bisa Sebabkan Usus Bocor, Ini Penjelasan Dokter

SEMARANG – Hernia pada bayi dan anak ternyata bisa berujung fatal apabila terlambat ditangani. Dokter spesialis bedah anak sub spesialis digestif sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, dr. Edwin, M.Kes., Sp.B., Sp.BA., mengingatkan bahwa usus yang turun ke skrotum dapat terjepit, bocor, hingga memicu infeksi berat di rongga perut apabila tidak segera dioperasi.

Dalam podcast kesehatan “OaSe: Obrolan Sehat” produksi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, dokter Edwin menjelaskan bahwa hernia pada anak berbeda dengan hidrokel yang umumnya masih dapat sembuh sendiri dalam 6–12 bulan.

“Hernia harus segera dioperasi begitu terdiagnosis, bahkan pada bayi baru lahir sekalipun. Jangan menunggu usia,” tegasnya yang dikutip pada Rabu (20/5/2026).

Menurut dokter Edwin, hernia terjadi akibat saluran bawaan di area inguinal atau selangkangan tidak menutup sempurna sehingga organ seperti usus atau lemak dapat turun ke skrotum. Kondisi ini ditandai dengan benjolan yang hilang timbul dan dapat membesar ketika anak menangis atau mengejan.

 

dr. Edwin M.Kes., Sp.B., Sp.BA., dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro saat menjelaskan bahaya hernia pada bayi dan anak dalam podcast kesehatan OaSe FK Undip di Semarang.
Dokter spesialis bedah anak subspesialis digestif sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, dr. Edwin, M.Kes., Sp.B., Sp.BA., memberikan edukasi mengenai bahaya hernia pada bayi dan anak dalam podcast kesehatan “OaSe: Obrolan Sehat” produksi FK Undip di Semarang.

 

Bahaya terbesar hernia adalah ketika usus terjepit atau mengalami inkarserata. Dalam hitungan jam, usus bisa mengalami kerusakan sehingga kebocoran. Jika isi usus keluar ke rongga perut, anak dapat mengalami infeksi berat atau peritonitis yang membahayakan nyawa.

Ia juga mengingatkan orang tua agar tidak memijat atau mendorong paksa benjolan hernia karena dapat merusak usus dan menimbulkan perlengketan. Sementara itu, hidrokel merupakan kondisi penumpukan cairan di skrotum akibat saluran kecil yang belum menutup sempurna sejak lahir. Berbeda dengan hernia, hidrokel biasanya tidak berbahaya, tidak mengganggu kesuburan, dan sering kali dapat menutup sendiri seiring pertumbuhan anak.

“Hidrokel biasanya tampak terang jika disinari senter karena isinya cairan, sedangkan hernia terlihat gelap karena berisi organ padat seperti usus,” jelas dokter Edwin.

Meski demikian, hidrokel tetap perlu diperiksakan apabila benjolan semakin besar, menimbulkan nyeri, atau tidak menghilang setelah usia 6–12 bulan. Dalam kondisi tersebut, tindakan operasi mungkin diperlukan.

Selain edukasi mengenai hernia dan hidrokel, dokter Edwin juga mengimbau ibu hamil menjaga kesehatan selama kehamilan dengan memenuhi kebutuhan gizi, menghindari infeksi virus, serta rutin melakukan pemeriksaan prenatal guna menekan risiko kelainan bawaan pada bayi.

Ia menegaskan, apabila orang tua menemukan benjolan di selangkangan atau skrotum anak, segera lakukan pemeriksaan ke dokter umum, dokter bedah, maupun dokter bedah anak agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. (Humas FK Undip/Saradita/Erman).

 

Bagikan di:

Berita Terkait