SEMARANG – Keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk meraih gelar dokter muda. Hal itu pula yang dibuktikan oleh dr. Evangga Yudha Perdana, dokter baru lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip). Evangga berhasil menyelesaikan pendidikan profesi dokternya dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,78 yang sangat memuaskan pada wisuda periode April 2026. Pencapaian ini menjadi pembuktian luar biasa, mengingat ia terlahir dari keluarga sederhana tanpa latar belakang medis dan berhasil menjadi “perintis” dokter pertama di keluarganya. Baginya, keberhasilan ini merupakan buah dari ketekunan, visi besar orang tua yang luar biasa, serta lingkungan akademik Fakultas Kedokteran Undip yang sangat kondusif dan suportif.
“Menjadi dokter adalah panggilan jiwa untuk membantu sesama. Karena saya tumbuh dari keluarga biasa, saya paham betul bagaimana rasanya masyarakat kecil saat berhadapan dengan prosedur kesehatan. Motivasi terbesar saya adalah ingin hadir membantu mereka, sekaligus mengangkat derajat orang tua,” ungkapnya pada Kamis (21/5/2026).
Perjalanan Evangga untuk meraih gelar dokter penuh dengan perjuangan emosional. Latar belakang pendidikan orang tuanya tergolong sederhana, hanya lulusan sekolah dasar dan menengah, yang sehari-hari menyambung hidup dengan meneruskan usaha neneknya sebagai pedagang jamu keliling. Meskipun penghasilan dari berjualan jamu tidak menentu di tengah perkembangan zaman, orang tua dokter muda kelahiran tahun 2001 ini memiliki pemikiran yang sangat visioner terkait pendidikan anak. Mereka rela melakukan apa saja, termasuk menjual aset tanah, demi memastikan putra sulungnya bisa mengenyam pendidikan tertinggi.
“Orang tua saya mungkin bukan orang berpendidikan tinggi atau kaya raya, tetapi mereka selalu mengupayakan segala cara agar anak-anaknya berhasil. Pengorbanan mereka yang luar biasa itulah yang selalu menjadi jimat penambah semangat saya setiap kali merasa lelah dalam belajar,” tuturnya dengan haru.

Selama menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Undip, dokter baru yang sempat merasakan program pertukaran pelajar (student exchange) selama 10 minggu di luar negeri pada awal tahun 2025 ini mengaku sangat terbantu oleh ekosistem belajar di kampus. Menurutnya, Fakultas Kedokteran Undip berhasil menciptakan iklim akademik yang mengedepankan kolaborasi, bukan kompetisi yang menjatuhkan. Ia menyoroti bahwa di Fakultas Kedokteran Undip tidak ada budaya senioritas yang kaku atau diskriminasi latar belakang sosial. Semua mahasiswa dirangkul untuk belajar bersama dalam kelompok-kelompok diskusi dan praktik klinis. Hal ini membuat tekanan berat selama masa perkuliahan kedokteran menjadi jauh lebih ringan untuk dilalui.
“Lingkungan di FK Undip sangat hangat dan setara. Kami berjuang bersama-sama, saling membantu dalam kelompok, sehingga tidak ada momen diskriminasi yang berat. Hubungan yang suportif ini membuat kami bisa fokus memberikan yang terbaik,” jelas dokter baru yang memiliki minat mendalam di bidang teknologi dan musik instrumental neo-classical ini.
Meski lulus dengan nilai IPK 3,78 yang mentereng, ia tetap memilih untuk membumi. Bagi dirinya, nilai di atas kertas hanyalah angka, sedangkan ujian yang sesungguhnya adalah saat seorang dokter sudah terjun langsung dan berhadapan dengan pasien di masyarakat.
Setelah resmi menyandang gelar dokter, ia berencana untuk mengabdikan diri terlebih dahulu melayani masyarakat luas melalui fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS, sambil mencari pengalaman kerja dan menabung demi impian melanjutkan studi ke luar negeri di masa depan. Ia mengaku lebih terpanggil untuk mengejar nilai kemanusiaan dibanding sekadar materi.
Melalui capaian kelulusan ini, Fakultas Kedokteran Undip kembali menegaskan perannya dalam mencetak tenaga medis yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati mendalam dan ketangguhan mental untuk mengabdi pada bangsa.
Sebagai penutup, Evangga memberikan pesan penyemangat bagi rekan-rekan sejawatnya yang masih berjuang di bangku kuliah kedokteran agar tidak pernah menyerah pada keadaan.
“Pendidikan kedokteran memang menguras waktu, tenaga, dan pikiran. Namun ingat, di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Jika merasa lelah, ingatlah wajah orang-orang tercinta yang menanti kabar baikmu. Kita berjuang bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk kemaslahatan orang banyak. Sekarang, waktunya kita membalas budi dan membahagiakan mereka,” pungkasnya. (Humas FK Undip/Saradita/Erman)




