KALIMANTAN TENGAH – Pendidikan spesialis tidak hanya membentuk kompetensi klinis, tetapi juga karakter, kepemimpinan, dan keberanian mengambil peran strategis di tengah keterbatasan. Nilai inilah yang tercermin dalam perjalanan karier dr. Atet Kurniadi, Sp.KFR., MARS., FISQua, alumnus Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi FK Undip, yang kini dipercaya menjabat sebagai Direktur RSUD Hanau, Kalimantan Tengah.
Dibentuk oleh Pendidikan yang Kolaboratif
Menempuh pendidikan PPDS KFR di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, dr. Atet menyebut bahwa kurikulum yang komprehensif dan visioner menjadi fondasi utama dalam membentuk kompetensi klinis sekaligus kepemimpinan. Keilmuan KFR menuntut kolaborasi erat lintas profesi—mulai dari fisioterapis, okupasi terapis, terapis wicara, perawat, psikolog, pekerja sosial, hingga sejawat dokter dari berbagai disiplin.
“Untuk memulihkan fungsi dan kemandirian pasien, kolaborasi harmonis lintas profesi adalah kunci. Kebiasaan ini secara tidak langsung membentuk pola kepemimpinan yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja,” ungkapnya kepada FK Undip pada Jumat (20/2/2026).
Menjawab Tantangan Layanan Kesehatan Daerah
Pengalaman tersebut menjadi sangat relevan ketika ia mengabdi di Kalimantan Tengah—wilayah dengan tantangan geografis dan keterbatasan sumber daya manusia kesehatan. Dengan luas wilayah sekitar satu setengah kali Pulau Jawa, provinsi ini saat ini hanya memiliki enam dokter spesialis KFR. Kondisi tersebut menuntut lulusan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga adaptif, inovatif, dan mampu membangun jejaring.
Berawal sebagai Kepala Instalasi Rehabilitasi Medik RSUD Hanau, dr. Atet kemudian dipercaya menjadi Ketua Komite Medik dan Ketua Akreditasi Rumah Sakit. Peran-peran tersebut memperluas wawasannya dalam manajemen rumah sakit dan tata kelola layanan kesehatan.
Amanah Kepemimpinan dan Dampak yang Lebih Luas
Pada tahun 2020, ia diamanahi sebagai Direktur RSUD Hanau—yang kala itu masih berstatus rumah sakit kelas D milik Kabupaten Seruyan. Dua tahun berselang, rumah sakit tersebut diakuisisi oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan diproyeksikan menjadi rumah sakit rujukan regional wilayah barat. Transformasi ini menuntut kepemimpinan yang kuat, kolaboratif, dan berorientasi pada pelayanan publik.
“Kepemimpinan lahir dari kepercayaan. Kompetensi, kemauan untuk terus belajar, berinovasi, serta semangat tulus melayani menjadi kunci dalam memimpin institusi pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Nilai Kekeluargaan yang Membekas
Lebih dari aspek akademik, dr. Atet menekankan bahwa suasana kekeluargaan selama menempuh PPDS KFR FK Undip menjadi nilai yang paling berkesan dan terus ia terapkan hingga kini. Budaya saling mendukung antara residen, konsulen, dan tenaga kesehatan membentuk empati serta semangat melayani yang tulus.
“Dalam manajemen rumah sakit, nilai kekeluargaan memudahkan terciptanya kolaborasi, transparansi, dan keterbukaan untuk mencapai tujuan bersama,” tuturnya.
Pendidikan Spesialis untuk Pemimpin Masa Depan
Menurutnya, pendidikan spesialis di FK Undip tidak hanya mempersiapkan lulusan sebagai klinisi, tetapi juga sebagai pengambil kebijakan. Pengalaman berorganisasi, keterlibatan dalam kegiatan ilmiah dan sosial, serta pengenalan dasar manajemen, regulasi, etika, dan komunikasi menjadi bekal penting dalam menjalankan peran strategis di sistem kesehatan.
Kepada mahasiswa dan residen PPDS KFR FK Undip, dr. Atet berpesan agar terus berinisiatif, berinovasi, rendah hati, terbuka berkolaborasi, dan menjaga semangat belajar sepanjang hayat.
“Keberhasilan sejati adalah seberapa besar dampak manfaat yang dapat kita berikan bagi masyarakat,” tegasnya.
Komitmen FK Undip Mencetak Pemimpin Layanan Kesehatan
Kisah dr. Atet Kurniadi menegaskan komitmen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dalam menghadirkan pendidikan spesialis yang tidak hanya unggul secara akademik dan klinis, tetapi juga membentuk karakter, kepemimpinan, serta kepekaan sosial. Melalui penguatan kurikulum, pembinaan berkelanjutan, dan budaya kolaboratif, FK Undip terus berupaya melahirkan dokter spesialis yang siap memberi dampak nyata bagi pembangunan kesehatan nasional, termasuk di wilayah dengan tantangan paling kompleks. (Humas FK Undip)




