Jangan Tunggu Gejala Muncul, Deteksi Gagal Ginjal dengan Pemeriksaan Laboratorium

SEMARANG – Pemeriksaan laboratorium dapat mendeteksi gangguan ginjal sejak dini bahkan sebelum gejala muncul. Penyakit ginjal sering kali berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Kondisi yang dikenal sebagai silent disease ini membuat banyak penderita baru menyadari adanya gangguan ginjal ketika fungsi organ tersebut telah mengalami penurunan yang cukup signifikan.

dr. Villa Sekar Cita, Sp.PK. Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), menekankan, ginjal merupakan organ vital yang memiliki berbagai fungsi penting bagi tubuh. Selain menyaring limbah dan racun dari darah untuk dikeluarkan melalui urin, ginjal juga berperan dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh, mengatur tekanan darah, serta membantu pembentukan sel darah merah.

“Penyakit ginjal tidak hanya menyerang lansia. Anak muda yang terlihat sehat pun bisa mengalami gangguan ginjal, terutama jika pola hidupnya kurang sehat,” ungkap dr. Vila dalam Podcast FK Undip pada 21 Mei 2026.

Sebagai dokter spesialis patologi klinik, dr. Villa menegaskan bahwa pemeriksaan laboratorium memiliki peran penting dalam mendeteksi gangguan ginjal sebelum muncul gejala. Pemeriksaan fungsi ginjal dapat dilakukan melalui sampel darah maupun urin.

 

dr. Villa Sekar Cita, Sp.PK., Dosen PPDS Patologi Klinik FK Undip, menjelaskan pentingnya pemeriksaan laboratorium untuk deteksi dini penyakit ginjal.
dr. Villa Sekar Cita, Sp.PK., Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), menjelaskan peran pemeriksaan laboratorium dalam mendeteksi gangguan ginjal sejak dini.

 

Melalui pemeriksaan darah, dokter dapat menilai kadar kreatinin dan ureum yang kemudian digunakan untuk menghitung laju filtrasi glomerulus atau estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR), yaitu indikator kemampuan ginjal dalam menyaring darah. Sementara itu, pemeriksaan urin dapat mendeteksi adanya protein, darah, maupun gula yang tidak seharusnya ditemukan dalam urin normal.

“Protein dalam urin bahkan bisa menjadi tanda awal kerusakan ginjal meskipun hasil pemeriksaan lainnya masih terlihat normal,” jelasnya.

Menurut dr. Villa, banyak kasus gangguan ginjal ditemukan pertama kali saat seseorang menjalani medical check-up (MCU) rutin, meskipun tidak memiliki keluhan apa pun. Kondisi inilah yang membuat pemeriksaan kesehatan berkala menjadi sangat penting untuk mendeteksi penurunan fungsi ginjal sejak dini.

Meski dikenal sebagai penyakit yang sering tidak bergejala pada tahap awal, terdapat beberapa tanda yang perlu diwaspadai masyarakat. Satu di antaranya ialah mudah lelah, pembengkakan pada wajah atau tungkai, sering buang air kecil pada malam hari, urin berbusa yang tidak segera hilang, serta tekanan darah tinggi yang sulit dikendalikan.

“Kalau muncul gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.

Pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala sangat dianjurkan bagi individu yang memiliki faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, perokok aktif, maupun mereka yang rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka panjang. Namun demikian, masyarakat yang merasa sehat juga tetap disarankan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

“Untuk orang dewasa yang sehat, minimal lakukan medical check-up satu kali setiap tahun. Terutama ketika usia sudah mendekati atau memasuki 40 tahun,” katanya.

Melalui deteksi dini dan pemeriksaan laboratorium rutin, masyarakat diharapkan dapat mengenali gangguan ginjal lebih cepat sehingga risiko komplikasi serius dapat dicegah dan kualitas hidup tetap terjaga. (Humas FK Undip/Saradita/Erman)

 

Bagikan di:

Berita Terkait