Peserta dan narasumber berfoto bersama usai Discussion Session “Digital Mental Health” yang diselenggarakan FK Undip, KPSI Simpul Semarang, dan Pattiro Semarang di Semarang.

Tantangan Stigma dan Era Digital bagi Penyintas Skizofrenia, FK Undip Bersama KPSI Hadirkan Program Literasi Kesehatan Mental

SEMARANG — Tantangan stigma dari lingkungan sekitar serta derasnya arus informasi di era digital masih menjadi persoalan serius bagi penyintas skizofrenia. Menjawab kondisi tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip) berkolaborasi dengan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Semarang dan Pattiro Semarang menggelar Discussion Session bertajuk “Digital Mental Health”, Minggu (3/5/2026), di Kantor Pattiro Semarang. Kegiatan yang didukung pendanaan Hibah FK Undip ini dilaksanakan secara hybrid dan diikuti lebih dari 50 peserta, baik secara luring maupun daring melalui Zoom Meeting.

Ketua tim pengabdian, dr. Widodo Sarjana A.S., MKM., Sp.KJ., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan respons atas tingginya penggunaan internet yang membawa dampak ganda bagi orang dengan skizofrenia (ODS). Menurutnya, internet memang memudahkan akses informasi terkait pengobatan, namun di sisi lain paparan media sosial yang berlebihan juga berisiko memicu kecemasan, depresi, hingga fenomena self-diagnosis tanpa pendampingan tenaga profesional.

“Paparan konten di media sosial yang terus membicarakan keluh kesah atau keinginan bunuh diri juga rentan menjadi trigger memburuknya kondisi psikologis bagi penyintas lainnya. Karena itu, kemampuan menyaring informasi dari internet, menghindari self-diagnosis, serta menyeimbangkan aktivitas digital dengan interaksi sosial di dunia nyata dan konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi langkah yang sangat penting,” ujar dr. Widodo.

Dalam sesi tersebut, peserta juga dikenalkan pada inovasi pemulihan berbasis teknologi melalui program HOPE4Skizofrenia yang dipaparkan oleh Ns. Sri Padma Sari. Program ini menjadi salah satu bentuk komitmen perguruan tinggi dalam memperluas jangkauan edukasi dan meningkatkan literasi kesehatan mental, khususnya bagi kelompok masyarakat rentan. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh edukasi komprehensif dari para pakar. dr. Widodo memberikan ulasan mengenai tantangan skizofrenia di masyarakat modern, termasuk panduan konsumsi obat psikiatri yang aman ketika dikombinasikan dengan obat medis lainnya.

Selain itu, peserta juga dibekali keterampilan mengelola kecemasan melalui praktik Stress and Anxiety Management yang dipandu oleh Ns. Nana Rochana, S.Kep., MN. dan Ns. Marsha Yoke Nancy, S.Kep., M.N.Sc. Dalam pemaparannya, keduanya menjelaskan bahwa stres berkepanjangan dapat membuat tubuh terus berada dalam kondisi fight or flight, meningkatkan hormon stres, dan memicu kekhawatiran berlebihan hingga berkembang menjadi gangguan kecemasan (anxiety).

Sebagai solusi praktis, peserta diajak mempraktikkan terapi mindfulness, yakni pendekatan kesadaran penuh tanpa menghakimi yang berfokus pada pengalaman saat ini, seperti pengaturan napas, untuk membantu mengubah pikiran negatif menjadi lebih adaptif. Peserta juga dikenalkan dengan terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique), sebuah pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek spiritual dan stimulasi titik energi tubuh guna membantu memulihkan keseimbangan mental dan emosional.

 

Tangkapan layar Zoom saat sesi pemaparan materi “Apa Itu Skizofrenia?” dalam Discussion Session “Digital Mental Health”.
Narasumber menyampaikan materi “Apa Itu Skizofrenia?” secara daring melalui Zoom dalam Discussion Session “Digital Mental Health”, Minggu (3/5/2026).

Praktik pengelolaan stres ini dinilai sangat relevan oleh peserta. Hal itu terlihat dari antusiasme tinggi sepanjang sesi diskusi dan tanya jawab, ketika berbagai persoalan nyata yang kerap memicu kecemasan di lapangan dibahas secara terbuka dan interaktif. Menanggapi dinamika tersebut, Pendiri dan Ketua KPSI Nasional, Bagus Budi Utomo, yang turut hadir dalam kegiatan, menekankan pentingnya ruang aman dan dukungan sosial bagi penyintas.

“Teman-teman penyintas harus saling mengajak dan saling mendukung agar komunitas bisa terus aktif dan eksis. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga mendorong kemandirian dan semangat para penyintas untuk berdaya, baik dalam proses pemulihan klinis maupun saat terjun secara profesional di dunia kerja,” ujarnya.

Kolaborasi antara FK Undip, KPSI Simpul Semarang, dan Pattiro Semarang ini diharapkan menjadi contoh sinergi berkelanjutan antara dunia akademik dan organisasi masyarakat sipil dalam memperluas dukungan psikososial yang inklusif bagi penyintas skizofrenia.

“Melalui program yang didukung pendanaan Hibah Pengabdian Masyarakat Tahun 2026 ini, penyintas skizofrenia dan keluarganya diharapkan semakin tangguh, sehat, dan tidak merasa sendirian dalam perjalanan pemulihannya,” tutup dr. Widodo. (*)

Bagikan di:

Berita Terkait