SEMARANG – Pengabdian merupakan salah satu langkah dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip) untuk mengimplemantasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus memberikan akses kesehatan kepada masyarakat. Salah satunya dilakukan di Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku ditetapkan sebagai Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Jose T. Manuputty, Sp.Og yang kala itu masih menjadi residen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obstetri dan Ginekologi FK Undip dikirim ke Kepulauan Aru selama dua bulan untuk memberikan pelayanan kesehatan. Tepat setelah menyelesaikan ujian nasional PPDS pada Februari 2026, ia berangkat ke daerah tersebut. Kepada FK Undip, dr. Jose mengaku pengalaman bertugas di Kepulauan Aru menjadi salah satu momen paling berharga dalam perjalanan profesinya. Selain menjadi pengalaman pertamanya melayani di luar Pulau Jawa, ia juga merasakan kedekatan emosional dengan masyarakat setempat karena berasal dari Maluku, meski belum pernah sebelumnya mengabdi di daerah tersebut.
“Perjalanan menuju Aru cukup panjang. Dari Semarang ke Jakarta, lanjut ke Ambon, lalu ke Dobo. Total kurang lebih 12 jam perjalanan. Tapi semuanya terbayar saat sampai di sana dan melihat masyarakat sangat membutuhkan pelayanan dokter spesialis,” ujarnya pada Senin (18/5/2026).
Tidak hanya melayani pasien di rumah sakit, dokter Jose juga ikut serta dalam berbagai kegiatan puskesmas dan melakukan pelayanan kesehatan ke pulau-pulau sekitar. Salah satunya ke Pulau Wokam yang berjarak sekitar 30–40 menit perjalanan menggunakan kapal dari Pulau Wamar, ia menangani berbagai kasus kebidanan dan kandungan, mulai dari persalinan resiko tinggi, operasi sesar, hingga tindakan ginekologi mayor seperti pengangkatan rahim yang sebelumnya jarang dilakukan di rumah sakit tersebut karena keterbatasan tenaga spesialis.

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah saat menangani pasien persalinan darurat dengan presentasi kaki. Pasien tersebut menempuh perjalanan sekitar enam jam dari desa menuju rumah sakit di Dobo. Sebelumnya persalinan telah ditolong oleh dukun beranak setempat yang dikenal masyarakat dengan sebutan “mama biang”. Saat tiba di rumah sakit, posisi kaki bayi sudah berada di bawah dan sempat mengalami lecet, namun bayi belum dapat dilahirkan.
“Tim segera melakukan penanganan di rumah sakit. Syukurnya ibu dan bayinya bisa selamat,” tutur dr. Jose.
Selain itu, ia juga mengaku menghadapi banyak tantangan selama bertugas di wilayah kepulauan. Keterbatasan fasilitas kesehatan menjadi hal yang sangat terasa dibandingkan pelayanan di rumah sakit di Pulau Jawa. Menurutnya, alat operasi di daerah masih terbatas, ketersediaan obat-obatan juga tidak selalu lengkap, sehingga dokter sering kali harus mencari alternatif obat pengganti di luar standar yang biasa dipelajari selama pendidikan.
“Tidak semua obat tersedia. Jadi kita harus banyak beradaptasi dan eksplorasi. Misalnya ada kasus sifilis (penyakit menular seksual), tetapi obat utamanya tidak tersedia sehingga harus mencari obat pengganti,” jelasnya.
Tantangan lainnya juga datang dari infrastruktur rumah sakit. Ia pernah mengalami kejadian listrik padam saat operasi sedang berlangsung sehingga tim medis harus melanjutkan tindakan dengan bantuan cahaya lampu telepon genggam. Pada kesempatan lain, tim juga sempat menghadapi situasi kehabisan oksigen saat pelayanan berlangsung.
“Di sini mungkin saat operasi lampu tidak pernah mati. Tapi disana kami pernah operasi lalu listrik padam. Semua tetap berusaha tenang, dokter, perawat, bidan membantu pakai lampu handphone sampai listrik kembali menyala. Pernah juga kehabisan oksigen dan kami harus segera memanggil petugas,” katanya.
Meski berada dalam keterbatasan, dr. Jose menilai tenaga kesehatan di Kepulauan Aru memiliki semangat kerja yang luar biasa. Ia melihat bidan dan tenaga medis setempat memiliki kemauan belajar yang sangat tinggi meski akses terhadap pembaruan ilmu medis masih terbatas.
Ia juga mengaku merasa sangat dihargai selama bertugas di sana. Kehadiran dokter spesialis disebut benar-benar dirindukan masyarakat maupun tenaga kesehatan di rumah sakit.
“Saya merasa sangat dihargai dan diperhatikan. Banyak bidan yang aktif berdiskusi, berkonsultasi, dan berkontribusi dalam pelayanan. Kehadiran dokter spesialis memang sangat dibutuhkan, terutama di rumah sakit daerah seperti di Aru,” ungkapnya.
Dokter Jose menjelaskan penempatan tenaga medis spesialis di wilayah tersebut menjadi penting karena sebelumnya rumah sakit pernah didukung tenaga residen dari Bali. Namun untuk dokter spesialis obstetri dan ginekologi, sudah cukup lama kosong, dengan kehadiran terakhir sekitar tahun 2022.

Di akhir ceritanya, ia menyampaikan pesan kepada dokter spesialis, residen, maupun dokter umum agar tidak ragu mengabdi di daerah-daerah yang masih membutuhkan pelayanan kesehatan, khususnya di kawasan Indonesia Timur.
“Masih banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan tenaga medis. Di sini kita bisa bekerja dengan tenang dan fasilitas memadai, tetapi di sana banyak keterbatasan. Mereka membutuhkan banyak sumber daya untuk membantu pelayanan kesehatan,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya bekerja dengan ketulusan saat menjalani pengabdian di daerah.
“Kalau kita bekerja dengan ikhlas, kita akan mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang sangat besar. Kalau kita terlalu mengharapkan lebih, mungkin kita bisa kecewa. Tetapi kalau dijalani dengan tulus, akan ada banyak hal berharga yang kita dapatkan,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tenaga kesehatan merupakan role model di tengah masyarakat. Karena itu, dokter yang bertugas di daerah perlu menjaga sikap, etika, dan komunikasi, sekaligus menghormati budaya lokal yang mungkin berbeda dengan daerah asal. Dokter Jose pun mengajak lebih banyak tenaga medis untuk berpartisipasi dalam pelayanan kesehatan di daerah terpencil agar akses layanan kesehatan yang merata dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. (Humas FK Undip)




