Anak Sesak Napas hingga Sulit Menyusu, Waspada Gejala Gagal Jantung Sejak Dini!

SEMARANG – Gagal jantung pada anak sering kali tidak dikenali sejak dini karena gejalanya kerap menyerupai gangguan pernapasan biasa atau masalah tumbuh kembang. Kondisi ini dapat menjadi berbahaya apabila tidak segera terdeteksi dan ditangani dengan cepat oleh tenaga kesehatan.

Melalui podcast edukatif “Oksigen: Obrolan Edukasi Berbagai Elemen”, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro menghadirkan pembahasan mengenai pentingnya deteksi dini, penanganan cepat, hingga dukungan keluarga pada pasien anak dengan penyakit jantung bawaan maupun gagal jantung. Podcast dipandu oleh dr. Nidia dengan menghadirkan dua narasumber, yakni dr. dr. Anindita Soetadji, Sp.A(K) dan dr. Mulyono, Sp.A(K) yang merupakan dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak FK Undip.

Menurut dr. Anindita, gagal jantung pada anak merupakan kondisi ketika jantung tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh untuk proses metabolisme secara optimal. Berbeda dengan orang dewasa, gejala gagal jantung pada anak tidak selalu berupa nyeri dada atau keluhan khas jantung lainnya.

“Pada anak, gagal jantung tidak hanya ditandai sesak nafas, tetapi juga bisa berupa gagal tumbuh, sulit menyusu, dan berat badan yang tidak naik sesuai kurva pertumbuhan,” jelasnya.

Ia menambahkan, penyakit jantung bawaan menjadi salah satu penyebab utama gagal jantung pada anak. Kondisi tersebut memiliki angka kejadian sekitar 1 persen dari kelahiran hidup atau sekitar 10 kasus per 1.000 kelahiran.

Sementara itu, dr. Mulyono menjelaskan bahwa kasus gagal jantung pada anak cukup sering ditemukan di unit kegawatdaruratan, terutama pada pasien yang sebelumnya belum terdiagnosis memiliki kelainan jantung bawaan.

“Kadang anak datang hanya dengan keluhan sesak napas. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, baru diketahui ternyata terdapat kelainan jantung,” ujarnya.

Dalam podcast tersebut, kedua narasumber menekankan pentingnya pemeriksaan klinis yang teliti oleh tenaga kesehatan, khususnya di layanan primer. Pemeriksaan seperti anamnesis, auskultasi jantung, foto toraks, elektrokardiografi (EKG), hingga pulse oximetry screening dinilai sangat membantu mendeteksi penyakit jantung bawaan secara dini.

Anindita menjelaskan bahwa saat ini telah tersedia skrining Critical Congenital Heart Disease (CCHD) menggunakan pulse oximeter pada bayi baru lahir. Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur saturasi oksigen pada tangan dan kaki bayi.

“Kalau saturasi oksigen di bawah 95 persen atau terdapat perbedaan lebih dari 3 persen antara tangan dan kaki, maka perlu pemeriksaan lanjutan,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penyakit jantung bawaan non-sianotik atau ‘tidak biru’ sering kali sulit terdeteksi saat lahir. Gejala biasanya baru muncul beberapa bulan kemudian, seperti bayi mudah berkeringat saat menyusu, menyusu terputus-putus, mudah lelah, hingga pertumbuhan yang terhambat.

 

Anak pasien penyakit jantung bawaan sedang menjalani pemeriksaan kesehatan bersama tenaga medis di rumah sakit dalam edukasi gagal jantung pada anak.
Ilustrasi gagal Jantung pada anak ( Ilustrasi Freepik )

 

Selain itu, tenaga kesehatan juga perlu mewaspadai adanya kelainan bentuk tubuh tertentu atau dismorfik yang dapat berkaitan dengan kelainan genetik dan penyakit jantung bawaan.

Dalam penanganan pasien gagal jantung anak, dr. Mulyono menekankan pentingnya stabilisasi awal, terutama pada kondisi gawat darurat. Penanganan dapat meliputi pemberian oksigen, pengaturan cairan, penggunaan obat diuretik, hingga ventilasi mekanik pada pasien dengan edema paru dan gangguan pernapasan berat.

“Prinsipnya adalah mengatasi preload, afterload, dan membantu fungsi pompa jantung sesuai kondisi masing-masing pasien,” jelasnya.

Kedua narasumber juga menyoroti pentingnya kolaborasi antar tenaga kesehatan, mulai dari dokter umum, dokter anak, dokter jantung anak, hingga dokter bedah jantung untuk menentukan tata laksana terbaik bagi pasien.

Selain penanganan medis, dukungan emosional kepada keluarga pasien juga dinilai penting. Orang tua perlu mendapatkan edukasi mengenai kondisi anak, terapi yang mungkin dijalani, hingga pentingnya imunisasi pada anak dengan penyakit jantung bawaan.

“Anak dengan penyakit jantung bawaan justru lebih rentan mengalami infeksi, sehingga imunisasi tetap penting diberikan dengan kewaspadaan,” tegas dr. Anindita.

Di akhir podcast, kedua narasumber mengingatkan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda gagal jantung pada anak dan tidak ragu melakukan rujukan apabila ditemukan kecurigaan penyakit jantung bawaan.

“Kenali kegawatannya terlebih dahulu, stabilisasi pasien, dan lakukan kolaborasi agar diagnosis dan tata laksana dapat dilakukan secepat mungkin,” pesan dr. Mulyono.

Bagikan di:

Berita Terkait