SEMARANG — Dokter Spesialis Urologi sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), dr. Dimas Sindhu Wibisono, Sp.U, Subsp.And (K), FICS, memberikan penjelasan komprehensif mengenai vasektomi sebagai salah satu metode kontrasepsi pria yang aman, efektif, dan minim risiko. Edukasi ini menjadi bagian dari upaya FK Undip dalam meningkatkan literasi kesehatan reproduksi masyarakat, khususnya terkait pilihan KB pria.
Dalam penjelasannya, dr. Dimas menyampaikan bahwa vasektomi merupakan prosedur pemotongan saluran sperma (vas deferens) yang termasuk operasi kecil dengan angka keberhasilan mendekati 100 persen.
“Vasektomi adalah tindakan pemotongan saluran sperma. Prosedur ini termasuk operasi kecil, dengan risiko yang sangat rendah. Efektivitasnya sampai dengan 100%,” ujarnya pada Senin (24/11/2025).
Luruskan Mitos: Vasektomi Tidak Menurunkan Kejantanan
Dimas menegaskan bahwa masih banyak anggapan keliru terkait vasektomi, termasuk keyakinan bahwa tindakan ini dapat menurunkan performa seksual atau identik dengan kebiri. Ia menegaskan bahwa kedua anggapan tersebut tidak benar.
Ia bahkan menyebutkan bahwa kepastian tidak adanya risiko kehamilan dapat meningkatkan kenyamanan dan performa seksual.
“Vasektomi menurunkan kejantanan dan sama dengan kebiri adalah mitos,” tegasnya.
“Secara psikologis vasektomi malah akan meningkatkan gairah dan performa seksual,” tambahnya.
Siapa yang Disarankan Menjalani Vasektomi?
Menurut dr. Dimas, vasektomi disarankan untuk pasangan yang ingin ber-KB permanen secara sukarela. Ada sejumlah kriteria yang menjadi pertimbangan, antara lain:
- pasangan telah memiliki minimal dua anak,
- usia anak bungsu sudah di atas dua tahun,
- usia suami lebih dari 30 tahun, dan usia istri 20–45 tahun.
Dari aspek medis, vasektomi memiliki profil keamanan yang sangat baik dengan angka mortalitas 0%. Komplikasi yang mungkin terjadi—seperti perdarahan atau infeksi—tergolong jarang.
Prosedur Cepat, Pemulihan Singkat
Dimas menjelaskan bahwa tindakan vasektomi umumnya berlangsung 15–30 menit dengan anestesi lokal. Pasien dapat langsung pulang setelah prosedur dan menjalani pemulihan selama 2–3 hari sebelum kembali beraktivitas ringan.
Aktivitas seksual dapat dilakukan kembali setelah 1 minggu, sementara olahraga atau kegiatan berat disarankan ditunda hingga 1 bulan setelah prosedur.
Vasektomi Bisa Dibalik, Meski Tidak Selalu Berhasil
Bagi pasien yang ingin memiliki anak kembali di kemudian hari, vasektomi dapat dibalik melalui operasi reversal vasectomy. Namun tingkat keberhasilan bergantung pada teknik operasi, usia pasangan, dan lamanya waktu sejak vasektomi dilakukan.
“Sebagai contoh, apabila dikerjakan kurang dari tiga tahun, angka kehamilannya sekitar 75 persen. Angka ini akan turun terus seiring dengan semakin lama waktu saat dikerjakan vasektomi,” jelas dr. Dimas.
Edukasi untuk Masyarakat
Melalui penjelasan ini, dr. Dimas menekankan bahwa vasektomi adalah metode KB pria yang aman, sederhana, dan sangat efektif. Ia mendorong para pria untuk tidak ragu berkontribusi dalam program keluarga berencana.
“Vasektomi merupakan pilihan KB pria yang sederhana, aman dan sangat efektif. Jadi para pria jangan ragu untuk turut berpartisipasi dalam program KB,” pesannya.
Dengan penyampaian edukasi berbasis bukti dari para ahli, FK Undip terus berupaya menghadirkan informasi kesehatan yang kredibel bagi masyarakat dan mendorong meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya peran laki-laki dalam keluarga berencana.(Humas FK Undip/Sara)




